Makan penting untuk hidup. Memilih makanan yang halal dan thayyib (baik) sama pentingnya untuk menjalani hidup sebagai seorang muslim. Belajar dan mengingat lagi tentang halal dan thayyib pun tak kalah penting, karena hakikatnya saya sebagai manusia harus selalu diingatkan.

 Dalam al-Quran, surat al-Baqarah ayat 168 menyebutkan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk makan makanan yang halal dan thayyib. Secara bahasa sederhana, bagaimanakah ‘bentuk’ halal dan thayyib itu?

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS al-Baqarah, 2: 168)

Dalam surat yang sama, pada ayat 57 dan 60, manusia dibenarkan untuk hanya memakan makanan yang baik yang telah dianugerahkan Tuhan dengan tidak melakukan kerusakan di bumi.

“Dan Kami Menaungi kamu dengan awan, dan Kami Menurunkan kepadamu mann [ket: sejenis madu] dan salwa [ket: sejenis burung puyuh]. Makanlah (makanan) yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami Berikan kepadamu. …” (QS al-Baqarah, 2: 57)

“… Makan dan minumlah dari rezeki (yang Diberikan) Allah, dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS al-Baqarah, 2: 60)

Berikut saya ringkas pengertian halal dan thayyib seperti dijelaskan oleh Ismail Thaib, anggota Majlis Tarjih PP Muhammadiyah (2002):

* Halal:

  • Lepas, tidak terikat -> terlepas dari ikatan bahaya duniawi dan ukhrawi
  • Boleh -> dibolehkan oleh agama Islam

Thayyib:

  • Yang lezat
  • Yang sehat
  • Tidak kotor dari segi zatnya
  • Tidak rusak (kedaluarsa)
  • Tidak dicampuri benda najis

Masalah halal dan thayyib tak hanya berhenti di makanan bersangkutan, namun bahkan diawali dari proses membuat dan/atau memperolehnya, sampai akhirnya berlanjut pada pengaruhnya terhadap kesehatan dan keberkahan diri si konsumen. Intinya, menentukan suatu makanan itu halal dan thayyib sungguh menyentuh banyak sisi.

Mengingat saya tidak harus mengalami zaman berburu dan meramu seperti di era prasejarah dulu, betapa bersyukurnya saya dikelilingi banyak makanan yang kaya bentuk, tekstur, aroma, dan rasa (meskipun seumur hidup baru sebagian kecil saja yang sudah saya cicipi, dan sisanya hanya bisa saya nikmati lewat membaca, mendengar, dan mengamati).

Maka sudah sepatutnya rasa syukur tersebut saya barengi dengan kemauan yang konsisten untuk selalu berpihak pada yang halal dan thayyib. Semoga Allah memudahkan.

Referensi:

  • Hilman Latief, “Makanan dan Spiritualitas: Telaah terhadap Wacana dan Tradisi Agama-agama” dalam TARJIH Edisi 4, Juli 2002 (PDF)
  • Ismail Thaib, “Pandangan Islam Terhadap Makanan” dalam TARJIH Edisi 4, Juli 2002 (PDF)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s