Sebagian dari kita mungkin sering merasa gak ngeh kalau melewati tempat pembuangan sampah. Saya pribadi lebih sering merasa malu, karena saya tahu saya ‘punya andil’ menambah sampah di sana, lagi dan lagi. Karenanya, dengan membuat kompos sendiri di rumah, meski tak seberapa, saya merasa bisa mengurangi sedikit ‘dosa’ nyampah saya.

Latar Belakang
Sudah akhir 2016, maka bukan jamannya lagi muncul pertanyaan, “Kenapa harus (repot-repot) membuat kompos sendiri di rumah?” Ini masalah kesadaran dan keinginan pribadi saja. Tak perlu disertai penjabaran teoretis tentang gaya hidup hijau.

Kesadaran dan keinginan pribadi untuk mengurangi dan mengelola sampah basah atau sampah dapur pertama kali muncul ketika saya masih lajang dan tinggal di rumah orang tua, sekitar tahun 2007.

Setelah membaca berbagai macam referensi, tutorial, dan pengalaman orang, waktu itu akhirnya saya mencoba membuat kompos sistem tanam/timbun/kubur. Berhubung dulu saya bukan ‘orang dapur’ (karena segala urusan dapur ‘dikuasai’ orang tua), sebagian besar sampah yang saya jadikan kompos adalah sampah taman. Sayangnya, karena kurang sabar, rutinitas mengumpulkan dan mengubur sampah ini tidak bertahan lama.

Tahun 2009, setelah menikah, saya menguatkan tekad dan mencoba lagi. Kali ini saya menggunakan media ember bekas untuk membuat kompos sendiri (tapi seingat saya dulu bikinnya salah). Lagi-lagi semangat terlalu cepat mengendor, sehingga aktivitas tersebut hanya bertahan tak sampai seumur jagung. Tambahan lagi induk semang (alias pemilik rumah sewaan/kontrakan) saya dulu membuang kompos yang sedang saya buat, jadinya makin putus asalah saya. *drama*

Tahun demi tahun berlalu, segala macam referensi dan tutorial pembuatan kompos rumahan sederhana selalu saya simpan untuk suatu saat saya praktikkan dengan ‘iman yang lebih kuat’.

‘Suatu saat’ tersebut akhirnya terwujud di Januari 2016… dan sampah-sampah dapur yang saya kumpulkan berhasil menjadi kompos di awal Desember 2016.

 Perjuangan Membuat Kompos Sendiri

Selama hampir 12 bulan terakhir, saya sudah dua kali mengganti wadah pembuatan kompos, dan sudah beberapa kali membuang kompos yang masih dalam proses pembuatan, kemudian mengulang kembali dari awal.

Mulai masalah kompos yang dipenuhi belatung; kompos yang terlalu basah dan berat; kompos yang menguarkan bau busuk; wadah kompos yang kepenuhan; dan lain sebagainya, semua saya hadapi satu per satu, pelan-pelan, meski kadang dengan rasa enggan dan dengan pikiran, “What the hell am I doing, seriously?”

Selama hampir 12 bulan di tahun ini saya berjuang, terutama melawan rasa malas dan rasa tidak-mau-peduli-lagi. ‘Pembelaan’ saya, mungkin karena berhadapan dengan sampah — sesuatu yang tidak menyenangkan apalagi ‘glamor’, makanya saya kurang termotivasi.

Dan setelah hampir 12 bulan, setelah berhasil memanen kompos saya untuk tanaman di rumah, saya merasa seperti wisuda lagi. *lebay*

 Cara Membuat Kompos dari Sampah Dapur

Catatan: Metode yang saya gunakan ini termasuk paling sederhana, yang saya adaptasi dari banyak referensi dan pengalaman orang lain. Harap diingat, pengalaman setiap orang dalam membuat kompos akan berbeda-beda. Selain pengetahuan, diperlukan feeling juga dalam menangani kompos.

  1. Siapkan wadah dengan tutup rapat untuk membuat kompos. Saya menggunakan tempat sampah plastik bertutup ukuran sedang. Sesuaikan besar-kecilnya wadah dengan produksi sampah dapur kita, ya. Sebelum digunakan, wadah saya cuci bersih dan keringkan terlebih dahulu.
  2. Buat lubang-lubang kecil di bagian bawah wadah. Agar bisa digunakan untuk sampah basah apa saja (sampah dapur maupun sampah halaman), komposter ini menggunakan metode anaerob, yang tidak memerlukan oksigen dalam prosesnya. Saya melubangi bagian bawah wadah kompos menggunakan ujung obeng yang dipanaskan di api. Lubang-lubang ini nantinya untuk jalan keluar air berlebih dari sampah basah kita.
  3. Letakkan wadah kompos di halaman belakang (saya meletakkan di teras belakang). Kalau mau, bisa tambahkan penyangga di bawah wadah, supaya lubang di wadah tidak bersentuhan langsung dengan lantai. Tempat sampah yang saya gunakan kebetulan sudah memiliki penyangga. Tapi langsung diletakkan di atas tanah atau rumput juga tak masalah.
  4. Siapkan sampah kita. Secara teori, kompos terbentuk dari perbandingan sampah basah/hijau (nitrogen/N) dan kering/coklat (carbon/C) yang proporsional, yaitu 2N : 1C. Jadi, dalam satu wadah, idealnya jumlah sampah basah adalah dua kali lipatnya sampah kering. Sampah N, misalnya kulit buah, sisa potongan sayur, tanaman busuk, dll. Sampah C, misalnya daun kering, sobekan koran atau kertas, ‘sekam’ gergaji, dll.
  5. Susun sampah berlapis-lapis antara sampah N dan sampah C, dimulai dengan sampah C terlebih dahulu di bagian paling dasar. Hal ini dimaksudkan agar pengomposan berjalan lebih cepat. Agar lebih cepat lagi, biasanya digunakan mikroba tertentu sebagai pengompos, sekaligus untuk membunuh belatung yang bisa saja muncul. Saya tidak menggunakan tambahan mikroba apa pun.
  6. Tambahkan sampah dapur dan/atau sampah halaman setiap kapan pun ada produksi sampah di rumah. Aduk-aduk sedemikian sehingga sampah yang baru dimasukkan berada di bagian tengah atau bagian dalam kompos yang sedang dibuat.
  7. Aduk kompos beberapa hari sekali (saya menggunakan bekas stik drum milik suami). Bila terlalu basah, tambahkan sampah C.
  8. Panen kompos saat isi wadah berkurang dan terlihat seperti tanah atau terlihat seperti kompos yang biasa dijual di pedagang tanaman (gunakan feeling). Gunakan kompos untuk tanaman di rumah kita. Kompos bisa disaring terlebih dulu untuk dipisahkan dari kompos yang belum jadi. Sisa sampah dalam wadah bisa dilanjutkan lagi proses pengomposannya dengan rutin ditambahkan sampah N dan C.

Tambahan:

  • Saya tidak memasukkan sampah dapur yang sebelumnya bersentuhan dengan minyak (misalnya sisa sayur tumis), agar dalam wadah kompos tidak muncul belatung dan agar kompos tidak bau.
  • Sebelumnya saya biasa memasukkan sisa nasi basi ke dalam komposter, tapi karena di halaman belakang saya banyak burung berseliweran, saya akhirnya lebih memilih melempar sisa nasi ke tanah agar dihabiskan oleh kawanan burung tersebut.
  • Di internet banyak tersedia referensi mengenai apa saja yang bisa menjadi sampah N dan sampah C. Rajin-rajin saja mencari dan membaca.
  • Cara paling gampang untuk ‘mengeringkan’ kompos yang terlalu basah adalah dengan menambahkan ‘sekam’ gergaji. Siapkan selalu stoknya dengan meminta sisa serutan kayu di tukang kayu terdekat.
  • Sabar dan semangat selalu. Kalau kadang malas ‘menengok’ keadaan kompos gak apa-apa (saya juga masih sering begitu), tapi jangan kelamaan, ya.

Selamat mencoba!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s