Beberapa tahun terakhir ini tren kue vegan atau plant-based atau serba-berbahan dasar tumbuhan semakin menyebar. Saya bukan seorang vegetarian dan tidak merasa bermasalah dengan kue-kue ‘konvensional’, namun sesekali tubuh saya perlu menikmati kue-kue yang lebih ‘ringan’. Dan saya memutuskan untuk mencoba kue ‘ringan’ dari 3 Tungku, Surabaya.

Sebelum ini saya hanya mengamati kue-kue buatan 3 Tungku via Instagram. Toko kue online tersebut menyediakan kue-kue vegan yang tanpa gluten (non-terigu/gandum atau gluten-free), tanpa telur (egg-free), dan tanpa produk olahan susu (non-mentega, non-susu, dan sejenisnya, atau dairy-free). Khusus untuk kue-kue dengan krim, krimnya menggunakan produk olahan susu, karenanya saya menyebutnya semi-vegan.

Mumpung berkunjung ke Surabaya beberapa waktu lalu, saya mencoba salah satu kue buatan 3 Tungku. Tadinya saya mau memesan cake slice-nya, supaya bisa mencicipi setiap jenis kuenya. Tapi karena tidak bisa, saya memilih memesan Black Chocolate Cake with Yoghurt Buttercream, kue cokelat hitam pekat berdiameter 22 sentimeter yang permukaannya dilapisi krim yogurt dan dihias potongan (mungkin) buah cherry merah.

Awal memesan, saya ditanya terlebih dahulu oleh Mbak Citra — sang baker 3 Tungku — apakah saya sebelumnya pernah makan kue gluten-free, egg-free, dan dairy-free. Ditanya begini, saya punya feeling kalau kue-kue jenis vegan pasti rasanya bakal ‘beda’ dari kue-kue ‘biasa’.

Berhubung saya punya pengalaman jualan kue-kue tanpa gluten menggunakan tepung singkong dan pernah berkali-kali eksperimen membuat kue-kue vegan dan semi-vegan (walaupun menurut saya tidak ada satu pun eksperimen saya yang benar-benar berhasil), saya bisa memahami bahwa memang lidah kita akan agak ‘kaget’ saat mencicipi kue-kue ‘non-konvensional’.

Setelah nyicip Black Chocolate Cake with Yoghurt Buttercream-nya 3 Tungku, saya tetap kaget. Saya kaget karena krim yogurt-nya enak sekali di lidah saya. Gak ngerti deh, bagaimana yogurt bisa dijadikan krim selembut dan senikmat itu.

Saat akan mencicipi bagian cake-nya, jujur saya rada ‘takut’, soalnya saya yakin kuenya gak pakai mentega atau margarin, sementara lidah saya sangat terbiasa dengan kue yang berlimpah lemak mentega dan/atau margarin. Saya sempat khawatir kalau kuenya menggunakan minyak untuk lemaknya, padahal selama ini saya kurang bisa menikmati cake (terutama cake cokelat) yang memakai minyak alih-alih mentega/margarin.

Setelah saya coba, sekilas tekstur dan rasa cake-nya terasa seperti kue berbahan dasar tepung ketan hitam, tapi jauh lebih lembut. Lama-kelamaan lidah saya menyadari ‘hitamnya’ rasa cokelat di cake tersebut, namun terasa ‘ringan’. Saya gak tahu apa istilah untuk jenis cokelat hitam pekat demikian, tapi untuk memudahkan visualisasi, bisa coba makan biskuit hitam yang terkenal itu (baca: Oreo).

Untuk ukuran kue semi-vegan, kue cokelat ini termasuk enak yang pas, terlebih untuk lidah saya yang agak-agak ‘fat-mania‘. Tapi jujur saya masih belum siap move on dari kue yang menggunakan produk olahan susu di dalamnya, karenanya krim yogurt di kue yang saya pesan ini sangat membantu lidah saya belajar beradaptasi dengan ‘tidak konvensionalnya’ cake tersebut.

Rasa terima kasih dan apresiasi saya untuk 3 Tungku atas pengalaman kuliner ini. Semoga di lain waktu saya punya kesempatan untuk mencoba kue-kue ‘ringan’ lainnya dari 3 Tungku.

Buat yang akan mengunjungi kota Surabaya, boleh mencoba kue-kue vegan dan semi-vegan-nya 3 Tungku. Info lengkap bisa dilihat di Instagramnya, @3_tungku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s