Bagi seorang food enthusiast, tekstur dan aroma suatu makanan saja sudah cukup memanjakan. Bahkan hanya membicarakan tentang makanan pun bisa bikin ‘klepek-klepek’ *agak lebay sedikit*. Namun adakah tempat bagi penggemar makanan dalam Islam?

 Selama ini saya banyak membaca bagaimana Quran dan hadits menyebut-nyebut makanan dari sisi yang ‘tidak enak,’ misalnya bahwa makanan yang kita masukkan ke dalam mulut dan perut merupakan sumber berbagai macam penyakit. Bahkan agar sehat, kita dianjurkan untuk mengurangi makan (atau berpuasa) dan mengurangi tidur.

Imam Ahmad bin Hambal juga pernah menyebutkan bahwa manusia lebih membutuhkan ilmu agama ketimbang membutuhkan roti dan air minum (makanan), karena ilmu agama dibutuhkan setiap waktu, sementara makanan hanya dibutuhkan sekali atau dua kali saja setiap harinya (sumber: muslim.or.id).

Jadi, seperti apa Islam memandang orang-orang yang menggemari makanan dan/atau memasak?

Boleh Makan Apa Saja, Boleh Masak Apa Saja, Asalkan …

Saking penasarannya, di Juni 2016 lalu saya menanyakan pada dua orang berilmu bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap para penggemar makanan: pertama, pada Mbak yang sering berbagi materi di kelompok pengajian saya; kedua, pada Ustadz Mubarak A. Rahim via pesan singkat dalam sebuah program di Mujahidin Madani TV (M2TV) Pontianak.

Keduanya memberi penekanan pada satu hal yang sama: silakan makan, silakan minum, asal jangan berlebihan.

Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak Menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS al-A’raf, 7: 31)

Menurut Mbak Umi dari kelompok pengajian saya, ayat di atas mengisyaratkan perlunya kita mensederhanakan hidangan yang kita konsumsi.

Bahkan sebagian salaf mengatakan, “Allah swt mengklasifikasikan seluruh ilmu kedokteran hanya dalam setengah ayat,” dan merujuk pada ayat tersebut di atas (dalam Tafsir Ibnu Katsir 2/210), untuk menunjukkan betapa kesehatan bisa didapatkan ‘sesederhana’ melalui mengurangi makan atau makan dengan tidak berlebihan.

Secara spesifik, Ust. Mubarak menjelaskan bahwa kita boleh makan apa saja, boleh minum apa saja, juga boleh masak apa saja, asalkan semuanya halal dan baik -> yang mendatangkan kekuatan atau energi bagi kita untuk menjalankan ketaatan kepada Allah.

Juga, kita boleh makan apa saja, boleh minum apa saja, dan boleh masak apa saja, asalkan tidak berlebih-lebihan. Allah tidaklah menyukai orang yang berlebih-lebihan.

Berlebih-lebihan -> melampaui batas kewajaran, hingga mengakibatkan penyakit, menyebabkan kemubaziran, menimbulkan rasa malas untuk beribadah, dan sebagainya.

Jadi semuanya jelas sejelas-jelasnya. Menggemari makan dan/atau memasak sah-sah saja, insya Allah, selama bersumber pada yang halal lagi baik, serta dengan proporsi yang secukupnya. Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya.

Referensi:

  • Mubarak A. Rahim, Ust., “Pelanggaran Terhadap Hari Raya” dalam program Majelis Ilmu, Mujahidin Madani TV (M2TV) Pontianak, 29 Juni 2016.
  • muslim.or.id (infografis).
  • Tree Grower Community – Himpunan Profesi Mahasiswa Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), “Makan dan Minum Jangan Berlebihan” dalam http://tgc.lk.ipb.ac.id (20 Juni 2010).
  • Umi Fatonah, “Berpisah dengan Ramadhan” dalam Majelis Taklim Mar’atussholihah, Masjid Nurul Ikhwan, Kabupaten Kubu Raya, 25 Juni 2016.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s