Bagi homebaker seperti saya, punya stok vanilla batangan itu berasa kayak nyimpan setidaknya satu emas batangan di dalam lemari pakaian *lebay* — disimpan baik-baik di tempat tertutup dan disayang-sayang biar awet. Dan itulah yang saya lakukan pada stok vanilla batangan yang sudah saya simpan sejak pertengahan 2015 lalu.

 Tentang Vanilla

Jadi ceritanya saya penasaran, tahun demi tahun makin banyak penggunaan vanilla batangan dalam pembuatan kue, baik oleh para homebaker maupun chef profesional.

Makin banyak pula dijual ekstrak dan pasta vanilla, termasuk yang hasil usaha rumahan. Intinya, vanilla semakin dikenal dan naik daun.

Sebelumnya, saya cuma tahu yang namanya vanilli — butiran kristal halus berwarna putih yang wangi, yang memang khusus untuk membuat kue beraroma sedap.

Tapi secara pribadi, saya tidak terlalu menyukai pemakaian vanilli, karena biarpun wanginya menyenangkan (kalau dicium langsung dari botol kemasannya), ternyata aroma dan rasanya agak bikin pusing setelah dicampurkan ke dalam kue.

Sebenarnya masalah selera sih, namun setelah membaca beberapa referensi, vanilli ternyata termasuk bahan makanan tambahan yang sifatnya sintetis atau tiruan.

Makanya saya terbiasa membuat kue apa adanya, tanpa tambahan wewangian apa pun kalau memang tidak diperlukan. Dulu pernah kejadian gak sengaja kebanyakan masukkin vanilli ke adonan kue, ujung-ujungnya kuenya jadi pahit. Jadi biar aman ya gak pernah makai lagi.

Balik ke soal rasa penasaran saya terhadap vanilla asli. Begitu penasarannya dengan pesona si vanilla yang merupakan keluarga anggrek, maka di pertengahan 2015 lalu saya mencoba membeli vanilla batangan asli Bali. Untuk kemasan 15 gram saya membayar hampir 40 ribu rupiah. Terakhir saya cek di akhir 2016, harganya sudah naik berkali-kali lipat.

Iya, walaupun ‘hanya’ bahan makanan tambahan dan cuma dipakai sedikit setiap satu kali penggunaan, vanilla, yang awalnya ditemukan oleh bangsa Aztec, termasuk komoditas yang sungguh mahal.

Harga yang mahal ini dikarenakan untuk menghasilkan bunga pertamanya saja vanilla memerlukan waktu sekitar dua-tiga tahunan. Setelah itu, sebelum siap digunakan untuk menambah kenikmatan makanan/minuman, masih ada proses panen yang panjang yang semuanya manual dan tidak bisa menggunakan mesin.

Tapi, sudah semahal itu saja, vanilla Indonesia  masih dianggap memiliki kualitas jauh di bawah vanilla asal Madagascar dan Mexico, dua negara penghasil vanilla terbaik dan termahal.

Berbeda dengan vanilli, yang kalau agak kebanyakan membuat kue jadi pahit, biji-biji hitam halus yang dikerok dari batang vanilla — bagi saya pribadi — tidak membuat aroma maupun rasa kue menjadi ‘aneh’ walaupun ditambahkan agak banyak ke dalam adonan kue.

Namun, seharum-harumnya vanilla asli, sepengalaman saya aroma dan rasanya akan lebih kuat bila dipadukan dengan bahan kue yang sifatnya tidak terlalu dominan. Misalnya, kekuatan vanilla tidak terlalu stand out dalam kue yang mengandung cokelat dalam jumlah besar. Contoh pengalaman lain, vanilla terasa nendang dalam Swiss meringue buttercream yang tidak diberi tambahan lain-lain.

Pada akhirnya, kualitas dari vanilla itu sendiri turut menjadi faktor penting. Ada harga, ada rasa.

 Membuat Vanilla Bubuk dari Sisa Batang Vanilla

Berhubung vanilla batangan yang dulu saya beli dalam kemasan 15 gram, saya hanya mendapatkan sekitar delapan batang.

Seperti yang saya sebut di awal, pemakaiannya sebisa mungkin saya irit-irit. Hingga akhirnya tersisa batang-batang vanilla yang sudah dibelah dan isinya sudah dikerok habis. Sebagian pernah saya campurkan di dalam gula pasir (dan menjadi vanilla sugar), sedang sisanya saya simpan menggunakan plastik klip tertutup rapat dalam lemari dapur.

Sekarang, setelah hampir dua tahun, dan setelah mencari referensi tentang apa yang bisa dilakukan dengan sisa batang vanilla, saya memilih untuk membuatnya menjadi vanilla bubuk (vanilla powder).

Cara Membuat Vanilla Bubuk

  1. Siapkan sisa batang vanilla yang sudah dikerok bijinya.
  2. Letakkan sisa batang vanilla di piring atau wadah lainnya, jemur di bawah sinar matahari langsung hingga batang vanilla benar-benar kering (saya memerlukan beberapa hari di tahap ini).
  3. Gunting setiap batang vanilla sampai berukuran kecil.
  4. Haluskan dalam chopper atau food processor. Namun karena jumlah batang vanillanya sangat sedikit, pisau chopper yang saya gunakan tidak mampu menghaluskan hingga benar-benar halus. Sebenarnya tidak masalah, hanya saja bila dicampur dalam adonan kue berwarna terang, butiran vanilla bubuknya mungkin akan ‘menodai’ kemulusan kuenya (meskipun tak masalah juga).
  5. Simpan vanilla bubuk dalam kemasan bertutup rapat, letakkan di tempat kering dan tertutup.

Selamat mencoba!

Untuk referensi tentang vanilla, silakan baca tulisan lengkap ini dari David Lebovitz, chef / food blogger / pakar kuliner favorit saya.

“Vanilla and vanilla bean are two different flavors, and vanilla bean is a much more intense experience.” (Leila Sales, “Past Perfect”)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s