Awalnya saya agak ragu mau meminjam buku ini dari Perpustakaan Kota Pontianak. Soalnya, walaupun berkisah tentang seorang pembuat kue (yang membuat saya merasa terhubung), namun latar tempatnya yang berlokasi di Rwanda, Afrika (dan ber-setting pasca-genosida pula) membawa pikiran buruk bagi saya: jangan-jangan ini tipe novel ‘gelap’ yang membikin hati frustrasi alih-alih termotivasi.

Tapi kekontrasan antara seorang pembuat kue dengan tempat yang sekilas terkesan ‘tidak ramah-kue’ sungguh menggelitik rasa keingintahuan yang semakin dan semakin besar. Maka buku ini pun beralih ke tangan saya.

 Angel’s Cake karya Gaile Parkin berkutat di pikiran dan perbuatan tokoh utamanya, Angel Tungaraza. Ia adalah seorang pembuat kue yang spesialisasinya berupa kue-kue berhiaskan frosting krim warna-warni cerah, dan kadang dibentuk seunik mungkin. Ini mengingatkan saya pada ‘stereotipe’ orang-orang Afrika yang, mungkin dilatarbelakangi ragam budayanya, menyukai hal-hal dengan warna-warna mencolok (koreksi saya bila saya salah).

Angel yang berasal dari Tanzania, bersama suaminya yang seorang akademisi, harus menghidupi lima orang cucu yang masih belia setelah kedua anaknya yang diam-diam positif terjangkit HIV/AIDS meninggal secara tragis. Virus ini juga diceritakan menjadi momok yang menakutkan bagi Rwanda (dan sekitarnya), namun tak semua penduduknya memahami. Bilapun ada, biasanya tak berani membahas tentangnya secara blak-blakan.

Buku ini menggambarkan Rwanda di awal 2000-an, ketika perang antarsuku dan pembunuhan besar-besaran sudah lama berlalu, namun tak akan pernah bisa terhapus dari ingatan karena efek traumatisnya.

Angel tidak hanya dikisahkan sebagai seorang pembuat kue yang bagus dan enak. Ia juga dideskripsikan sebagai seorang pendengar yang baik dan memiliki empati tinggi. Orang-orang berbagai kalangan yang mendatanginya untuk memesan kue akan dengan terbuka menceritakan kisah hidup hingga permasalahan mereka. Dan kadang Angel-lah yang menyumbangkan solusi nyata bagi mereka.

Secara garis besar, Angel’s Cake adalah sebuah kisah sederhana dari keseharian seorang pembuat kue. Akan tetapi karena hidup di wilayah pasca-konflik di tengah ekspatriat asing serta penduduk lokal dan mantan pengungsi yang selamat dan bertahan dari konflik tersebut, kisah sederhananya tak bisa dibilang ‘sesederhana’ kisah pembuat kue lainnya.

Mengingat latar lokasi ceritanya, kita mungkin akan berpikir, siapa yang mau memesan kue berlapis krim di situasi seperti itu, dan untuk apa. Nyatanya, ada saja alasan untuk merayakan sesuatu dengan ditemani kue istimewa dalam buku ini — mulai dari acara just-because, pembaptisan bayi, pembentukan klub entrepreneur anak-anak perempuan, bahkan hingga perayaan kebebasan dari pernikahan yang tak diinginkan.

Bisnis kue tidak akan berjalan dengan baik di tempat orang-orang yang tidak punya sesuatu untuk dirayakan. (Tokoh Angel Tungaraza, “Angel’s Cake”)

Bagian yang akan paling saya ingat dengan perasaan hangat dari novel ini tentunya cara Angel menerima para calon pelanggannya dengan secangkir (atau beberapa cangkir) teh berempah dan sepiring cupcakes berlapis icing warna-warni, serta hati dan pikiran terbuka untuk mendengar cerita mereka agar ia mampu menerjemahkan kue pesanan mereka sebaik mungkin.

Angel’s Cake: Kisah tentang Tulusnya Cinta di Tengah Perang Saudara Rwanda (Gaile Parkin), 2010, Penerbit Qanita (452 halaman).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s