Di satu sisi, dia memanjakan indera penglihatan dan pengecap saya. Di sisi lain, dia membahagiakan perut dan perasaan saya. Itulah ‘keajaiban’ makanan (selama dikonsumsi secukupnya). Bagaimana ya, kita bisa menggemari makanan tertentu?



Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Physiology & Behavior (BrockenBrough dalam situs Women’s Health Magazine, 2011) menyebutkan bahwa sekitar 45% kecenderungan kita akan makanan tertentu dipengaruhi secara genetis. Ini dikarenakan kecenderungan terhadap rasa-rasa tertentu (misalnya rasa manis) sudah terbentuk dalam kode-kode DNA kita.
Menurut penelitian yang sama, sisa 55%-nya dipengaruhi oleh apa yang kita lihat dan pelajari dari orang tua kita. Tapi penulis yang juga guru besar Gizi dan Makanan dari California State University at LA, Margaret McWilliams, menyatakan kalau setiap orang pada dasarnya mengembangkan sendiri kecenderungan, pilihan, dan penilaiannya masing-masing terhadap makanan.

Saat kita merasa sangat menyukai sesuatu (termasuk makanan), sistem dopamin di dalam otak secara otomatis mengirimkan perasaan nyaman, perasaan bahagia. Hal ini kemudian disimpan dalam sebuah memori di dalam otak.

Makanan yang membuat kita merasa nyaman ini adalah makanan yang kita hubungkan dengan emosi-emosi positif. Kata Brian Wansink — penulis Mindless Eating, meskipun memori tentang makanan tersebut samar-samar, perasaan menggugah yang muncul bisa mendorong kita kepada makanan bersangkutan untuk meningkatkan mood atau menjaga perasaan bahagia.

Sama seperti seorang pendukung klub sepak bola yang akan mengenakan berbagai macam atribut untuk menunjukkan loyalitasnya terhadap klub tersebut, kita juga biasanya akan mempertahankan kegemaran kita akan makanan tertentu yang menghubungkan kita dengan agama dan latar belakang etnis kita. Atau bisa pula yang berkaitan dengan simbol-simbol, memori, asosiasi, dan rasa tertentu. Bahkan kondisi budaya dan sosial di sekitar kita juga mampu mempengaruhi cara pandang kita akan makanan.

Setelah kita memahami faktor-faktor yang mempengaruhi makanan yang kita suka, yang kita makan, dan cara kita memakannya, Elizabeth R. Lombardo — penulis A Happy You — mengatakan bahwa kita dapat mengusahakan bagaimana agar setiap pengalaman baru dengan makanan menjadi menyenangkan. Menurut Lombardo, yang terpenting adalah mengijinkan diri kita sendiri untuk menikmati apa yang ada di piring kita.

Toh, sebagai orang dewasa, kita sudah mengerti perlunya proporsi makan yang seimbang. Jadi, sebesar apa pun kegemaran kita akan makanan tertentu, kita sudah bisa mengira-ngira batasannya.

Referensi:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s