Setahun-dua tahun lalu adalah pertama kalinya saya mengenal Aku Belajar (meski hanya via Instagram). Dan menonton drama musikal mereka dua tahun berturut-turut merupakan pengalaman yang jauh lebih berkesan serta menguras emosi ketimbang menonton Tenggelamnya Kapal Van der Wijck di bioskop *agak lebay sedikit*.

15 April 2017 kemarin menjadi kali kedua saya dan anak-anak saya berkesempatan menonton drama musikal yang digelar non-profit organization (NPO) Aku Belajar di Taman Budaya, Pontianak. Tahun ini dengan tajuk Taman Pelangi Impian, kolaborasi para volunteer Batch 5 dengan anak-anak didik mereka dari daerah TPI, Kubu Raya.
But first thing first. Ada kalimat yang paling saya ingat dari acara kemarin, dan kebetulan berasal bukan dari drama musikalnya sendiri, melainkan dari sang MC, Galih Wahyudi.

Kalimat persisnya saya gak hapal. Lebih-kurangnya begini lah,

“Saat kita sibuk merapikan foto-foto kita di Instagram, orang-orang ini [para relawan Aku Belajar] melakukan aksi nyata. Mereka merelakan waktu santai mereka untuk mengajar anak-anak [di daerah TPI], padahal mereka tidak dibayar. Bahkan mungkin mereka yang mengeluarkan biaya sendiri.”

Gak mungkin lah gak #jleb dengar kalimat seperti itu. Baru deh nyadar, ya ampun, ternyata kita [saya] jauh dari apa-apa dibandingkan para relawan muda tersebut.

Persis sama kayak tahun lalu, di drama musikal tahun sekarang, saya harus menahan-nahan bulu roma yang berdiri sekaligus menahan air mata yang hampir menetes ketika tiba giliran para relawan dipanggil namanya satu per satu ke atas panggung. Wow, ini lho, orang-orang muda hebat yang berhasil give back to the community.
Mau gak mau saya jadi merindukan masa-masa jaman dahulu kala sewaktu masih aktif berorganisasi dan menjadi relawan, walau dengan skala, yang menurut saya, masih di bawah para relawan Aku Belajar. Mereka jauh, jauh, jauh lebih luar biasa.

Tambahan lagi saat Svaragita Angklung Orchestra Pontianak memainkan Manuk Dadali, membuat saya seakan terlempar sejenak ke tanah kelahiran saya di Kuningan. What a nostalgia.

Dan drama musikalnya. Ah, what can I say? Penuh humor yang sungguh menyenangkan hati dan lagi-lagi bikin mata harus pura-pura kelilipan karena membuat haru-biru.

Dengan tema sederhana tentang mendukung bakat anak, anak-anak didik Aku Belajar dari TPI (yang juga kelihatan sederhana) tampil menawan dan memorak-porandakan emosi penonton. Tapi, saya yakin sebagian besar penonton berpendapat sama, bahwa the star of the stage adalah relawan yang berperan sebagai ibu dari Dare, si Mami Jenab (ingat ejaannya: je-a-en-e-be) *LOL*.
Again, you nailed it, Aku Belajar! Saya sungguh berharap semua anak yang pernah kalian ‘sentuh’ lewat keikhlasan para relawan kalian akan menjadi anak-anak terbaik bagi bangsa. Pun agar setiap relawan Aku Belajar menjadi pemimpin-pemimpin terbaik bagi negeri ini. Aamiin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s